Ini sebenarnya cuma warung makan biasa pada umumnya. lokasinya sendiri ada di Kantin Jogja Tronik Mall, Jogjakarta di bagian basement. Warung ini milik Bu Pardi. warung makan ini sendiri menyediakan aneka makanan seperti Kikil, Oseng Buncis, Lotek, Gado Gado, Koyor, OSeng Mercon, Gorengan, dan lain sebagainya


 Foto di bawah ini adalah foto dari anak pemilik warung makan. dia sedang menyiapkan pesanan. istilahnya nguleg bumbu bua gado-gado.

Nah kalo yang di bawah ini kumpulan sayur rebus untuk bahan lotek dan Gado-Gado

Nah kalo yang ini foto gorengan babat sapi dan rempola ati, emmmm mantab.
dan makanan yang menurut saya paling mantab yaitu OSENG MERCON Bu Pardi! saya beri predikat sebagai pembuat Oseng Mercon paling enak di Jogja yang pernah saya makan! CATET!
 
 Oh iya harga makanan-makanan di atas sangat terjangkau loh gaes, monggo dicobain langsung ke warungnya! pasti ketagihan!!!

-Eko Kukuh Kustanto-

I love kambing adalah tempat makan yang terletak di jalan monjali (Perempatan Jembatan Baru). Kenapa namanya i love Kambing? mungkin karena di warung ini menu dominasi adalah Kambing hehe.
Di bawah ini adalah Foto pricelist yang sempat saya abadikan.
 

Wow... harganya dibilang cukup lumayan mahan untuk anak kuliahan seperti saya. Singkat cerita, sesampainya di I love Kambing. saya dan teman memesan Sate Kambing dan Ayam. oh iya info nih, nasi dijual terpisah huhu ....

 Di bawah ini adalah  :

 1.1 Foto Sate Ayam

 1.2 Foto Sate Kambing

 1.3 Foto Saya
 seperti biasa, narsis dulu buat postingan ahahah maafin yaak gaes 

 
1.4 Foto Anis Kim
Pokoknya saya cukup puas dengan bumbu dan sate kambingnya. Bikin ketagihan sih sebenernya, tapi harganya kok lumayan mahal hahaha. ya mungkin sebulan sekali boleh hahah. ngiri bos, kan anak kuliahan hehe

-Eko Kukuh Kustanto-
 


Cara membantu kaum Difabel
1. selalu tanya lbh dahulu
2. eye contact, directly
3. never ask their impairment
4. treat differently

accesible tourism -> Universal Design
- by all people
- services
- Attitude

IMPAIRMENT ( gangguan / ketunaan)
Secara Internal
contoh : Seorang mahasiswa menggunakan kacamata -4

DISABILITY
secara eksternal
contoh : Seorang mahasiswa tidak menggunakan kacamata untuk alat bantu matanya.

Gunakan kata Difabel untuk mereka yang mengalami gangguan tubuh/jiwa untuk menghargai hidup mereka.

-Eko Kukuh Kustanto-

Sego Koyor / Nasi Urat Sapi

One and Only in Jogja 
berdiri sejak tahun 1968 di jalan Brigjen katamso, Kota Jogja. Sego koyor milik Bu Parman ini memiliki cita rasa yang menarik dan enak.

 Foto diatas adalah Sepanci utuh dari Sego Koyor dengan kuah santan berpadu dengan rempah rempah yang beragam

Jumat malam, saya pergi ke Sego Koyor dan menikmati satu porsi dari Sego Koyor. Sekedar informasi, harga dari sego koyor ini pun tidak terlalu mahal. Jadi buat anak kuliahan seperti saya, sego koyor tidak terlalu menguras kantong heheee.

Narsis sedikit gapapa ya hhehe, ini foto saya semalam ketika menikmati sego koyor di pinggiran jalan Brigjen Katamso, Kota Jogja.


Sego Koyor juga menjajakan makanan lain seperti Gorengan, baceman, Ramesan, Trecek, dan lain-lain.

Foto Trecek 

For your information ya gaes, sego koyor buka dari pukul 21.00 malam. Nah, tapi harus cepet2 ya, soalnya Sego Koyor suka ramai pengunjung, ntar imbasnya kalian bakalan nunggu tempat duduk hehe. Semakin malam, sego koyor bukan semakin sepi tapi malah emakin ramai hehe. ya maklum namanya juga makanan malam yang buka di jam-jam setan hehe.
Konon ceritanya Sego koyor sering ditawari untuk membuka cabang di tempat lain. Tetapi pemilik menolak dengan alasan ingin tetap berjualan di tempat ia pertama kali buka. Jadi pemilik ingin membuat orang yang pernah makan di Sego Koyor kembali lagi ke tempat mereka makan pertama kali. waah menarik ya heheh
Segitu dulu yah postingan tentang sego koyor, terimakasih.

Eko Kukuh Kustanto


 Kedai Bambu atau Nasi Bambu yak yang bener? saya sedikit lupa, hehe. 
alkisah saya diajak teman kontrakan saya membeli makanan. Dan tanpa pikir panjang, teman saya mengajak ke tempat ini. Sebut saja Kedai Bambu. Alamatnya sendiri, ada di daerah Pogung Kidul, di seputaran selokan mataram.
Warungnya memang tidak luas tetapi cukup nyaman sebagai tempat makan dengan kelas mahasiswa. tersedia lesehan dan tidak.

Nah, untuk menu di Kedai Bambu antara lain(Kalo ga salah) :
1. Ikan Nila + Nasi Bambu (10K)
2. Ikan Lele + Nasi Bambu (9K)
3. Ayam + Nasi Bambu (11K)
 4. Ampela Ati + Nasi Bambu (8K)
5. Telur + Nasi Bambu (7K)
Jumlahnya memnag belum banyak tetapi untuk cita rasanya enak dan pas! apalagi ditambah pilihan Kremes/ Bakar/Goreng/ #cmiiw
Untuk minuman sendiri Kedai bambu menawarkan beberapa pilihan antara lain Jus Melon,Jus Jambu, Es Teh, Es Jeruk, Cincau Capucino, dan lain-lain.


 Di atas adalah foto nasi bambu yang saya abadikan. nasi bambunya sendiri memiliki rasa gurih. Apalagi ditambah suwiran jamur di dalamnya. Emmm .. hehe
Nah buat Kalian anak kuliahan yang gila makan dengan harga ekonomis tapi cita rasa  tidak mengecewakan! Saya rekomendasiin Kedai Bambu sebagai pilihan.

Teimakasih telah membaca
- Eko Kukuh Kustanto-
Lesehan Serba Pedas 
Ibu Siti - JOGJA

Alamat : Jalan Colombo (Kanan Jalan Indomaret Point) Sleman DIY

Lesehan malam yang lumayan enak dengan harga terjangkau! pas dengan kantung mahasiswa nih. Lesehan ini bukanya dari malam pukul 21.00 - Habis (mungkin jam 02.00)

 Gambar diatas adalah makanan yang saya pesan yaitu nasi mercon, tahu, sama daun singkong sambal pedes. wellrasanya lumayan dan porsinya juga mengenyangkan. cocoklah buat mahasiswa yang kalo bangun malam kelaparan bisadi coba cuss ke tempat ini hehe.

 Foto teman saya Anis Kim, ketika sedang menikmati Es Jeruk ditengah malam nan hangat di jalan Colombo, Sleman
Dan ini saya sendiri Kukuhpyou In action haha, maaf narsis hehe

 Berikut nih adalah list harga makanan dan minuman yang ada di Lesehan Serba Pedas bu Siti, Sleman - DIY, oh iya sekedar info Bu Siti juga menerima pesanan dalam porsi besar. Hayo siapa yang mau cobaaaa...


Selamat Mencobaaa gaes! mari piknik jangan panik! hehhee
- Eko Kukuh Kustanto -



                                                    Mata Kuliah Manajemen Pariwisata Kreatif
                                                             oleh Eko Kukuh Kustanto/ 337674


I.                   Pendahuluan
Istilah Ekonomi Kreatif boleh dikatakan belumlah akrab di dalam wacana publik. Sekalipun nomenklatur ini telah menjadi salah satu dari unsur kementerian pada paruh kedua pemerintahan Presiden SBY, yaitu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, tetap saja belum dikenal dengan baik oleh setiap kalangan masyarakat Indonesia. Di samping memang istilah ekonomi kreatif merupakan hal yang baru dalam literatur ekonomi, usaha untuk mensosialisasikan bidang ini pun tampak belum maksimal. Pariwisata atau pertanian sebagai nomenklatur, jauh lebih dikenal dan dimengerti oleh masyararakat ketimbang ekonomi kreatif.
II.                Latar Belakang
Ekonomi Kreatif yang dipandang sebagai sub sektor dalam kegiatan ekonomi sebenarnya belum lama muncul. Pada dekade awal 1990-an, di Australia timbul persoalan mengenai mekanisme pandanaan yang berkaitan dengan kebijakan sektor seni dan budaya, sehingga muncullah istilah ketika itu “Creative Nation” yang dikeluarkan Australia. Tetapi istilah ini benar-benar terangkat ketika Department of Culture, Media, and Sport (DCMS) United Kingdom (Inggris) mendirikan Creative Industries Task Force pada tahun 1997. Kemudian DCMS Creative Industries Task Force (1998) merumuskan definisi sebagai berikut: “Creative Industries as those industries which have their origin in individual creativity, skill and talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property and content”. Ruang lingkup dari industri kreatif menurut DCMS meliputi, advertising, architecture, the art and antiques market, crafts, design, designer fashion, film, interactive leisure software, music, the performing arts, publishing, software, television and radio. Pada waktu berikutnya, banyak negara di dunia mengadopsi konsep Inggris ini, antara lain Norwegia, Selandia Baru, Singapura, Sewedia dan tentu saja Indonesia tidak mau ketinggalan dengan istilahnya sendiri, Ekonomi Kreatif.
Latar belakang Inggris merumuskan kebijakan Industri Kreatif yang kebijakannya berada di bawah Departemen Kebudayaan, Media dan Olahraga hingga dewasa ini, ialah pada dekade 1980-an di Inggris aktivitas industri menyusut, akibatnya pengangguran di negara itu meningkat, dan dampaknya alokasi dana pemerintah untuk bidang seni berkurang. Maka ditemukanlah gagasan dan strategi kreatif yakni culture as an industry. Sebenarnya ini merupakan paradigma baru dalam melihat seni dan budaya dalam hubungannya dengan perekonomian suatu negara. Melalui konsep ini, seni dan budaya tidak lagi dilihat sebagai sektor-sektor yang selalu membutuhkan subsidi dari negara, malahan justru didesain untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan pengembangan inovasi yang bernilai ekonomis. Sehingga pada masa itu, Tony Blair, PM Inggris, menyatakan, “pop music exports were financially more significant to the country than the steel industry. Indonesia sendiri dalam pembangunan sektor ekonomi kreatif tampak sangat cepat. Bila di negara maju semacam Inggris, timbulnya industri kreatif sebagai nomenklatur baru dalam kebijakan industrial mereka, hal itu tampak sebagai suatu yang alamiah dari perspektif evolusi ekonomi. Ingris, sebagai pelopor industri sekaligus lokus revolusi industri dunia, kini masuk pada tahap lanjut evolusi ekonomi, yaitu ekonomi berbasis ide dan kreasi. Bila disederhanakan, evolusi ekonomi dimulai dari tahap ekonomi berbasis pertanian, kemudian berkembang menjadi ekonomi berbasis industri, lalu ekonomi berbasis informasi, dan yang mutakhir ekonomi berbasis ide dan kreasi.
Kasus Indonesia dalam hal pembinaan Ekonomi Kreatif cukup menarik. Ekonomi Kreatif muncul dari atas (from above) melalui kebijakan negara. Tetapi bukan berarti kegiatan ekonomi kreatif baru muncul seiring dengan kebijakan pemerintah tersebut. Ekonomi Kreatif telah lama tumbuh dan berkembang di masyarakat, namun secara khusus mendapat perhatian dan pembinaan yang kuat dari pemerintah baru dimulai pada era pemerintahan SBY. Pemerintahan SBY telah meninggalkan legacy yang baik terkait pengembangan dan pembangunan ekonomi kreatif di Indonesia. Secara kronologis kebijakan ekonomi kreatif dimulai oleh pernyataan Presiden untuk meningkatkan industri kerajinan dan kreativitas bangsa, terselenggaranya Pekan Produk Budaya Indonesia 2007, yang berubah nama menjadi Pekan Produk Kreatif Indonesia 2009, terbitnya Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif, hingga Perpres Nomor 92 Tahun 2011 yang menjadi dasar hukum terbentuknya kementerian baru yang mengurusi ekonomi kreatif, yaitu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan Menterinya, Mari Elka Pangestu. Kemudian lebih lanjut terbitlah pada 2012
III.             Tujuan
-          Memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Pariwisata Kreatif
-          Mengetahui 14 Sub sector Ekonomi di Indonesia beserta contoh
IV.             Isi
Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tentang Rencana Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2012-2014. Di dalam rencana strategis itu telah tersusun dengan detail pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Ruang lingkup ekonomi kreatif di Indonesia berdasarkan Inpres Nomor 6 Tahun 2009 berbeda dengan di negara seperti Inggris, hal mana bidang penelitian dan pengembangan dimasukkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif. Di Inggris, bidang penelitian dan pengembangan tidak dimasukkan sebagai ruang lingkup Industri Kreatif, tetapi bidang konsultasi sudah dimasukkan sebagai bagian dari industri kreatif. Lebih rinci bidang-bidang apa saja yang termasuk dalam ruang lingkup ekonomi kreatif di Indonesia adalah sebagai berikut:
1)      Periklanan (advertising): kegiatan kreatif yang berkaitan dengan jasa periklanan, yakni komunikasi satu arah dengan menggunakan medium tertentu. Meliputi proses kreasi, operasi, dan distribusi dari periklanan yang dihasilkan, misalnya riset pasar, perencanaan komunikasi periklanan, media periklanan luar ruang, produksi material periklanan, promosi dan kampanye relasi publik. Selain itu, tampilan periklanan di media cetak (surat kabar dan majalah) dan elektronik (televisi dan radio), pemasangan berbagai poster dan gambar, penyebaran selebaran, pamflet, edaran, brosur dan media reklame sejenis lainnya, distribusi dan delivery advertising materials or samples, serta penyewaan kolom untuk iklan;
2)      Arsitektur: kegiatan kreatif yang berkaitan dengan desain bangunan secara menyeluruh, baik dari level makro (town planning, urban design, landscape architecture) sampai level mikro (detail konstruksi). Misalnya arsitektur taman, perencanaan kota, perencanaan biaya konstruksi, konservasi bangunan warisan sejarah, pengawasan konstruksi, perencanaan kota, konsultasi kegiatan teknik dan rekayasa seperti bangunan sipil dan rekayasa mekanika dan elektrikal;
3)       Pasar Barang Seni: kegiatan kreatif yang berkaitan dengan perdagangan barang-barang asli, unik dan langka serta memiliki nilai estetika seni dan sejarah yang tinggi melalui lelang, galeri, toko, pasar swalayan dan internet, meliputi barang-barang musik, percetakan, kerajinan, automobile, dan film;
4)      Kerajinan (craft): kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi produk yang dibuat atau dihasilkan oleh tenaga pengrajin yang berawal dari desain awal sampai proses penyelesaian produknya. Antara lain meliputi barang kerajinan yang terbuat dari batu berharga, serat alam maupun buatan, kulit, rotan, bambu, kayu, logam (emas, perak, tembaga, perunggu dan besi), kaca, porselen, kain, marmer, tanah liat, dan kapur. Produk kerajinan pada umumnya hanya diproduksi dalam jumlah yang relatif kecil (bukan produksi missal);
5)      Desain: kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain grafis, desain interior, desain produk, desain industri, konsultasi identitas perusahaan dan jasa riset pemasaran serta produksi kemasan dan jasa pengepakan;
6)      Fesyen (fashion): kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain pakaian, desain alas kaki, dan desain aksesoris mode lainnya, produksi pakaian mode dan aksesorisnya, konsultasi lini produk berikut distribusi produk fesyen;
7)      Video, Film dan Fotografi: kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi produksi video, film, dan jasa fotografi, serta distribusi rekaman video dan film. Termasuk di dalamnya penulisan skrip, dubbing film, sinematografi, sinetron, dan eksibisi atau festival film;
8)      Permainan Interaktif (game): kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi, dan distribusi permainan komputer dan video yang bersifat hiburan, ketangkasan, dan edukasi. Sub-sektor permainan interaktif bukan didominasi sebagai hiburan semata-mata tetapi juga sebagai alat bantu pembelajaran atau edukasi;
9)      Musik: kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi atau komposisi, pertunjukkan, reproduksi, dan distribusi dari rekaman suara;
10)  Seni Pertunjukkan (showbiz): kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha pengembangan konten, produksi pertunjukkan. Misalnya, pertunjukkan wayang, balet, tarian tradisional, tarian kontemporer, drama, musik tradisional, musik teater, opera, termasuk musik etnik, desain dan pembuatan busana pertunjukkan, tata panggung, dan tata pencahayaan;
11)  Penerbitan dan Percetakan: kegiatan kreatif yang terkait dengan penulisan konten dan penerbitan buku, jurnal, koran, majalah, tabloid, dan konten digital serta kegiatan kantor berita dan pencari berita. Subsektor ini juga mencakup penerbitan perangko, materai, uang kertas, blanko cek, giro, surat andil, obligasi, saham dan surat berharga lainnya, paspor, tiket pesawat terbang, dan terbitan khusus lainnya. Juga mencakup penerbitan foto-foto, grafir (engraving) dan kartu pos, formulir, poster, reproduksi, percetakan lukisan, dan barang cetakan lainnya, termasuk rekaman mikro film;
12)  Layanan Komputer dan Piranti Lunak (software): kegiatan kreatif yang terkait dengan pengembangan teknologi informasi, termasuk layanan jasa komputer, pengolahan data, pengembangan database, pengembangan piranti lunak, integrasi sistem, desain dan analisis sistem, desain arsitektur piranti lunak, desain prasarana piranti lunak dan piranti keras, serta desain portal termasuk perawatannya;
13)  Televisi & Radio (broadcasting): kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha kreasi, produksi dan pengemasan acara televisi (seperti games, kuis, reality show, infotainment, dan lainnya), penyiaran, dan transmisi konten acara televisi dan radio, termasuk kegiatan station relay (pemancar) siaran radio dan televisi;
14)  Riset dan Pengembangan (R&D): kegiatan kreatif terkait dengan usaha inovatif yang menawarkan penemuan ilmu dan teknologi, serta mengambil manfaat terapan dari ilmu dan teknologi tersebut guna perbaikan produk dan kreasi produk baru, proses baru, material baru, alat baru, metode baru, dan teknologi baru yang dapat memenuhi kebutuhan pasar. Termasuk yang berkaitan dengan humaniora, seperti penelitian dan pengembangan bahasa, sastra, dan seni serta jasa konsultansi bisnis dan manajemen. (Lihat, Prof.Dr.Faisal Afiff, Se.Spec.Lic, Pilar-Pilar Ekonomi Kreatif, 2012)